Penulis: Yokman Muhaling
KERUTAN di wajahnya kian nampak saat ia melempar senyum. Garis-garis tipisnya seakan membentuk peta perjuangan. Melukiskan perjalanan hidup penuh beban dan pengorbanan. Min Podomi namanya, 55 tahun, perempuan petani kakao binaan PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM), saat ditemui di sanggar tani Tunas Baru, Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) Jumat, 18 September 2026.
Di desa itu, Min menghabiskan harinya menyusuri barisan pohon kakao seluas 3 hektare, yang dirawatnya bersama sang suami, Oman Dibo, 69 tahun, sejak 4 tahun terakhir. Hampir setiap pagi, Min memeriksa buah kakao yang mulai matang, mengering akibat sengatan matahari, dan melihat tunas air untuk dipangkas. Sesekali memanen tanaman pendamping, kelapa dan cabe. Pekerjaan itu terasa akrab. Namun, dulu tidak demikian.
Terlahir dari keluarga ekonomi rendah, Min harus melewati getirnya hidup. Didera kesulitan ekonomi, membuat orang tuanya memilih meninggalkan kampung halaman. “Orang susah, orang biasa. Tahun 1982, orang tua pindah dari Desa Bakan ke Matali Baru, untuk membuka kebun,” kata Min.
Di situ, Min bersekolah hingga kelas 6 sekolah dasar (SD), namun tidak tamat. Setelah berhenti sekolah, sebuah keputusan besar ia buat. Min memilih menikah di usia dini. Kala itu, di tahun 1996, Min yang berusia 13 tahun, duduk bersanding dengan pemuda desa, Oman Dibo, 16 tahun.
Janji suci di usia belia dijalani. Hingga, pasangan di bawah umur itu mulai menghadapi badai rumah tangga. Penghasilan suami berpendidikan kelas 5 SD, dari hasil kerja serabutan, tak cukup memenuhi kebutuhan. Min dan suami serba kesulitan. “Suami menggarap lahan orang, sistemnya bagi hasil. Tapi itu tidak mencukupi,” ujarnya.
Di tengah himpitan hidup, Min dan suami harus menerima kenyataan pahit. Sebuah kehilangan besar menghampiri. Anak pertama mereka meninggal saat baru berusia 1 tahun. “Hanya sakit panas, tapi langsung tidak mau disusui,” ucap Min. Guncangan psikologi membuat Min dan suami kian terpuruk. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tak jarang keduanya harus mengeluh kepada orang tua. “Kalau tidak ditopang, jadi sulit,” ujarnya.
Kondisi itu berjalan selama 26 tahun. Sampai keduanya memiliki 3 anak dan 4 cucu. Dua anaknya bersekolah hingga sekolah menengah pertama (SMP), satunya lagi bisa lulus sekolah menengah atas (SMA). “Yang lulusan SMA sudah kerja di perusahaan (JRBM), sekuriti,” ujarnya.
Jika mengingat perjalanan rumah tangga, air matanya sering menetes. Beratnya perjuangan dan pengorbanan hidup begitu membekas di hatinya. Hanya ikrar menjalani kehidupan bersama, yang pernah diucapkan dulu, yang selalu diingat dan menjadi penyemangat dua insan itu melanjutkan hidup. “Kalau mengingat kehidupan rumah tangga, paling sakit hati saya. Namun, kita bisa bertahan, itu semua demi cinta” ujar Min.
Keinginan Min dan suami menanam kakao sudah sejak lama. Apalagi, mayoritas penduduk desa dengan populasi kurang dari 1.000 jiwa itu, adalah petani kakao. Ditambah, Min melihat teman-temannya bisa hidup layak dari berkebun tanaman yang dijadikan serbuk cokelat itu.
Hingga, harapan itu hadir di tahun 2022. Berawal ketika Min menerima uang arisan sebesar Rp28.500.000. Ia dan suami memutuskan uang tersebut dibelikan lahan. “Dapat 3 hekatre di perkebunan Pinaingan. Murah karena lokasinya agak jauh. Dari pinggir jalan, harus berjalan lagi lebih dari 1 kilometer. Berkeringat dulu baru sampai,” katanya.
Tantangan selanjutnya adalah permodalan untuk memulai menanam. Beruntung, pemerintah desa yang mendengar Min sudah memiliki lahan, langsung mengintervensi dengan memasukannya ke dalam kelompok tani. “Pemerintah prihatin melihat kondisi kami. Makanya dimasukan ke dalam data penerima bantuan bibit kakao,” katanya.
Tak menunggu lama, bantuan bibit kakao dari JRBM diterima. 4 anggota keluarga Min yakni suami dan 3 anaknya masing-masing mendapat jatah 260 pohon. Total keluarga Min mendapat bantuan 1.040 bibit kakao. “Saya sendiri tidak masuk karena ibu rumah tangga. Bantuan itu untuk kepala keluarga dan anak,” ujarnya.
Proses menanam pun butuh perjuangan. Bibit diangkut menggunakan sepeda motor yang sudah dimodifikasi tambahan bagasi kayu. Sehari, Oman bisa mengangkut 30 bibit kakao ke kebun untuk ditanam. “Sementara menanam, suami juga menyempatkan kerja ke orang, agar bisa dapat uang. Karena di rumah juga butuh makan,” katanya.
Buah dari perjuangan mulai dirasakan Min dan suami. Saat tanaman kakao berumur 17 bulan, mereka sudah mulai memanen. Di mulai dari 7 Kg, dan perlahan produksi naik. Hingga, pada 2024, keduanya bisa menambah tanaman dengan membeli 800 bibit kakao. “Total sudah 1.840 pohon yang kami tanam,” katanya.
Kini, dari lahan seluas 3 hektare, Min mulai memproduksi biji kakao. Panen paling besar pernah mencapai 100 kilogram lebih. “Kalau panen raya, semua petani di kampung sini menggunakan badan jalan untuk mejemur biji kakao. Hingga kendaraan sulit melewati jalan. Sampai viral, katanya Matali Baru banyak cokelat,” kata Min.
Perlahan ekonomi Min dan keluarga mulai bangkit. Meningkatnya produktivitas hasil kebun kakao sekaligus meningkatkan pendapatan. Meski belum sepenuhnya ke kondisi ideal, namun pencapaian saat ini patut disyukuri. “Alhamdulillah, setelah saya menanam kakao, terbantulah ekonomi saya,” kata Min.
Saat ini, Min berharap bantuan kepada petani kakao terus berjalan, menyesuaikan dengan kondisi yang ada. “Seperti saat ini musim panas, yang kita butuhkan selang air. Airnya ada, air sungai, tinggal butuh selang untuk menyalurkannya ke kebun,” ujar Min.
Matali Baru sendiri adalah salah satu desa di Kecamatan Lolayan. Di mana, Kecamatan Lolayan adalah penyumbang terbesar produksi biji kakao di Kabupaten Bolmong. Data di Dinas Perkebunan Bolmong menyebut, dengan luas tanam 5.930,51 hektare, Bolmong mampu memproduksi 3.897,21 ton biji kakao pada tahun 2025. “Itu sesuai data statistik perkebunan,” kata Kepala Dinas Perkebunan Bolmong, Harry Damopolii, Selasa, 22 September 2026.
Dari 15 kecamatan di Bolmong, wilayah sentra kakao ada di 2 kecamatan yakni Lolayan dan Dumoga Tenggara. Di mana, Lolayan dengan luas tanam 1.552,43 hektare mampu memproduksi 903,51 ton biji kakao atau menyumbang 23,18 persen produksi biji kakao di Bolmong. Sementara, Dumoga Tenggara dengan luas tanam 665,75 hektare mampu memproduksi 492,30 ton atau 12,63 persen dari produksi Bolmong. “Kita rekapnya per kecamatan. Sisanya tersebar di beberapa kecamatan lainnya,” ujarnya.
Untuk target produksi tahun 2026, mengacu pada angka tetap tahun sebelumnya atau produksi sebelumnya. Ia pun memprediksi tahun ini Bolmong akan mengalami penurunan produksi. “Karena dampak El Nino,” ujarnya.
Superintendent External Relation JRBM Taufik Pontoh mengatakan, sebelum memutuskan melakukan pemberdayaan melalui budidaya kakao, program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) JRBM sudah melakukan banyak kegiatan. “Mulai dari budidaya ikan air tawar, kelapa. Tapi tidak berhasil,” katanya.
Baru tahun 2016, manajemen mengamati program pemerintah Gerakan Nasional (Gernas) Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao atau populer disebut Gernas Kakao. “Setelah kami pelajari, ada kekurangan Gernas Kakao, yaitu tidak dilakukan pendampingan,” ujar Taufik.
Gagasan kemudian muncul pada tahun 2019. Perusahaan berbendera Indonesia itu memutuskan membentuk dan membina 2 kelompok tani kakao masing-masing 1 kelompok di Desa Bakan dan 1 kelompok di Matali Baru lewat program PPM. “Kita langsung merekrut ahli untuk pendampingan teknis budidaya dan ahli yang satu tentang pupuk organik,” kata Taufik.
Adapun jenis kakao yang dibudidaya dalam kelompok tani binaan JRBM, yakni jenis Masamba Cacao Clone 02 (MCC02). Itu dipilih karena klon unggul, tahan penyakit serta jumlah produksinya banyak. “Bijinya besar dan isinya minimal 45 biji. Makanya ada juga orang menyebutnya klon 45,” ujar Taufik.
Kini, jumlah kelompok tani kakao binaan JRBM sudah mencapai 34 kelompok. Masing-masing kelompok ada 10 anggota. “Artinya kita sudah mendampingi 340 petani,” kata Taufik.
JRBM juga melakukan pelatihan pembuatan pupuk organik, berlanjut dengan pembentukan kelompok yang memproduksi dua jenis pupuk organik, cair dan padat. “Kita juga memproduksi cocofiber sebagai sarana untuk pemupukan di lokasi terjal,” kata Robbyn Steven Mamengko, ahli pupuk JRBM yang sedang menempuh jenjang pendidikan Strata 3 (S3) Ilmu Pertanian di Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Selain itu, ada 2 sekolah yang dijadikan tempat pelatihan pembibitan kakao. Yakni, sekolah menengah kejuruan (SMK) Tanoyan dan SMK Dumagin. Siswa belajar langsung mengenai pembibitan, teknik sambung pucuk, perawatan tanaman, hingga penggunaan pupuk organik. “Program ini tidak hanya menyasar petani, tapi kita juga mempersiapkan generasi muda yang suka berkebun dan paling penting profesional,” ujarnya Taufik Pontoh.
Menurutnya, kunci keberhasilan program yaitu ada pada pendampingan dan keinginan petani untuk berubah. “Pada akhirnya, tujuan besar kita adalah, agar setelah perusahaan sudah tidak beroperasi di Blok Bakan, ada legacy berharga yang kita tinggalkan untuk masyarakat lingkar tambang,” ujar Taufik.
Tidak mudah sampai ke tahap ini. Butuh niat dan komitmen dalam menjalankan praktik pertambangan berkelanjutan. Biaya besar dikucurkan untuk sebuah tanggung jawab sosial dan lingkungan masyarakat.
Di kaki gunung Matali Baru, di area eksploitasi JRBM, keputusan mempertahankan pohon-pohon kakao, tak hanya melindungi keanekaragaman hayati. Dia ikut memulihkan penghidupan, dan membangun ketahanan pangan.
Pada akhirnya, pembangunan manusia berkelanjutan sering kali dimulai dari tempat sederhana, dari Min Podomi, puan yang tetap berdiri kokoh di pohon kakao yang ia pertahankan. (*)








